Opini | Terlahir dari Manusia, Diasuh Oleh Sosial Media

Editor : Safar/Delikindonesia.com

Penulis : Nuriana Pratiwi (Pengasuh Rumah Keluarga As Sakinah)

***

DELIK INDONESIA - Malam ini tak mampu kupejamkan mataku, di sepertiga malam terbangun dengan tanpa disengaja, walau disetiap menjelang tidur kuniatkan untuk bangun melewatkan sedikit waktu yang aku mampu untuk bermanja kepada Rabbku.

Kunikmati kembali peraduaanku sesaat, namun tak terpejam mata ini. Aku cukup banyak jadwal besok untuk aku eksekusi, jika tubuhku tidak cukup tidur maka emosiku akan gampang teesulut dan energiku tidak akan maksimal memainkan peran itu.

Ya, sebuah peran yang penuh keahlian, menjadi Chef Handal yang masakannya di puji saat enak, dan akan ditinggalkan dengan hilangnya selera makan mereka, Menjadi Teacher semua mata pelajaran, dari Tematik hingga Ahli sejarah, dan Bahasa seluruh Dunia. Tak cukup itu, aku juga harus menjaga Hafalan Bungsuku yang sudah hampir 2 juz dia hafalkan dengan janji manis syurga Jannatul Firdausy.

Sudah 1 pekan lebih, Abu panggilan mereka kepada suamiku yang ada di luar kota, Mendampingi para Relawan bersama para pengungsi dan Korban Bencana Alam di Majene Sulawesi Barat.

Biasanya aku akan protes dan akan sedikit bertingkah saat dia lebih 4 hari keluar kota, tapi tidak untuk urusan ini. Aku masih merasa bersyukur bisa berselimutkan bed cover tebal sambil menikmati memeluk Guling dan membaca Novel yang membuat aku merasa berkeliling Dunia.

Anak-anak yang aku heran lebih ksatria lagi, apa karena dia anak nya bathinku. Mereka seolah tidak protes saat Abu nya pergi membantu para Korban Bencana yang sesekali mereka lihat dalam berita dan Kiriman Video dari Abu mereka ke ponselku.

Selesai kunikmati malam-malam yang terasa lebih panjang, kumanja-manjakan tubuhku dalam peraduan malam sambil melantunkan Alkahfi dalam suasana hati yang damai. Sambil larut dalam dzikir dan sesekali pikiran melayang kesana kemari, kutunggu waktu shubuh tiba.

***

Pagi ini tubuhku sedikit lemas, tapi seakan ada energi yang menjadi batre cadangan untuk terus menjalani aktifitas hari ini insyallah, yakinku penuh.

Berusaha bangun lebih awal dari mereka, setelah mengecek beberapa Pesan yang masuk dan mengirim candaan bujuk Rayu seadaanya kepada “Sang Pejuang”kemanuasiaan itu, Aku menyeduh kopiku “Jep Kupi bah Bek Pungo”, itu jawaban penuh menantang dari kekasihku itu.

Akupun tak mau kalah untuk mengembalikan semangat pagi ku. Kuseduh kopi khas Aceh Gayo itu, yang aroma nya menyeruak masuk mengalir sampai ke syaraf bahagaiku.

Aku gak sabar, menikmati kopi sambil selonjoran di sofa melanjutkan bacaanku, sambil ku buat 1 buah Omlete sebagai penganjal rasa lapar.

Belum Selesai kusajikan Omlete sederhana tanpa sayur itu, suara pintu dibuka ternyata bangun Panglima ku. Sambil mengusap-usap matanya dan dia berusaha tetap sadar.

Wah, Me time ku jadi gagal ni pikirku sedikit kecewa. Tak lama saat itu juga bergantian mereka turun dan keluar dari kamar masing-masing, ini akan jadi pagi yang ceria, aku berusaha bahagia.

Setelah Request masing-masing menu sarapan mereka, sambil mereka berdebat kecil ku katakan pada mereka,” Mama males kali lihat kalian pagi-pagi udh berdebat, mama gak pernah dengar anak sebelah itu ribut atau berteriak” ucapku salah memberi komentar.

Jawaban tak disangka dari putri keduaku Jasmine dia lebih suka di panggil Yasmine

“Iyalah ma, mereka mana pernah ribut dan berteriak, karena mereka 24 jam dikasi HP dan Televisi Youtube( full internet maksudnya) sepanjang waktu”. Jawabnya penuh yakin keberanian.

Memang mereka selalu melihat dari balik jendela, ruangan keluarga tetanggaku itu terpantul dari kaca yang tembus pandang kearah kaca jendela kamar kami yang berhadapan. Hampir setiap waktu televisi mereka tidak pernah dimatikan, anak-anak yang selalu lapor kepadaku dengan penuh Ekspresi padahal aku tau itu rasa cemburu, kenapa kami tidak sebebas anak-anak itu.

Aku tak pernah menghiraukan saat mereka lapor dan sesekali mnghibur diri sendiri bahwa mereka pasti terlalu larut dengan hiburan itu sampai melupakan suara Azan Magrib yang berkumandang televisi masih saja menyala. Mereka menggerutu sambil menutup tirai yang tembus oleh cahaya layar kaca di seberang.

Sambil tertawa bangga dan bahagia aku berucap syukur, pada Allah yang memberikan kami banyak kenikmatan.

Anak sejatinya butuh pengasuhan dari kedua orangtuanya dengan penuh kasih dan perhatian, bijaklah menggunakan sosial Media.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel