OPINI | Pentingnya Intelektualisme Ditengah Panasnya Wacana Pilkada


DELIK INDONESIAPemilu kada (Pilkada), adalah sistem  yang diatur oleh   Komisi Pemilihan Umum (KPU) . Pada tanggal 5 Agustus 2019 menerbitkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2019 tentang : Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2020.

Dari 270 daerah yang  melaksanakan pesta demokrasi telah diwacanakan dari berbagai media, (Twiter, Facebook,YouTube, dan media cetak) hingga emperan jalan, serta warung-warung kopi oleh kalangan Politisi, Birokrat, Pemuda (Mahasiswa), dan bahkan Masyarakat awam. Walau dalam kondisi Pandemi Covid 19 ini, wacana pilkada semakin memanas maka semestinya kita mematuhi aturan pemerintah dengan hal ini menjaga protokol kesehatan agar kita terhindar dari penyakit wabah.

Dari sentimen politik ini, maka sepatutnya kita harus menjunjung tinggi demokrasi yang sehat dan harus menjaga keseimbangan dari dikotomi konflik, juga menghindari money politik (Politik uang) agar perhelatan politik ini berjalan secara sehat agar fundmaental tertentu tersusun secara baik. Politik merupakan sarana untuk menjawab kepentingan jangka panjang demi kemaslahatan masyarakat.

Wacana tentang Pilkada yang belakangan ini hangat sekali di perbincangkan adalah contoh bagaimana politik dan politisasi berada di persimpangan jalan. Meski masih berbentuk wacana, tapi isu ini sudah sangat liar dan ditarik ke segala arah yang memiliki kepentingan-kepentingan serta proker dari setiap pasangan calon (Paslon).

Setidaknya untuk pemilihan umum serentak nantinya bertepatan pada tanggal 09 Desember 2020 wacana kritis, ilmiah dan rasional perlu dikembangkan baik melalui platform media sosial, hingga warung-warung kopi dengan tuntutan dan harapan bahwa pemimpin yang lahir dari pilkada ini benar-benar memperhatikan dan memperjuangkan nasib, harapan dan masa depan rakyat yang di pimpinnya sesuai dengan visi dan misi di terapkan secara terstruktur.

Dewasa ini, dalam hal sistem politik yang dibangun sejatinya mempunyai suatu sosialisasi politik yang sehat. Wacana pilkada ini semakin memanas dibanyak kalangan, hingga bahkan persaingan begitu ketat terlihat dan mempertahankan para kandidatnya dengan berargumen kemenangan dari bacaan para tim masing-masing pasangan calon hingga lembaga survei.

Hal yang kemudian sebagai jalan terjan menuju politik yang berlandaskan pancasila dalam menentukan pemimpin demi pembaharuan masyarakat maka sepatutnya sebagai warga negara yang cinta akan demokrasi dalam pandangan 4 (Empat) konsensus bangsa indonesia ini harus seadil adilnya dikedepankan ,menjaga pilkada dengan sehat untuk mewujudkan politik yang santun, disebabakan karena ada banyak kasus intimidasi, profokasi saling menghujat antara  satu sama lain bahkan konflik kekerasan yang terjadi.

Bagaimana harus menghindari problem ini ??

Hal yang mampu menghindarinya berangkat dari berbagai persoalan terkait  memberikan edukasi pendidikan politik sehat kepada kalangan masyatakat  untuk menjaga dan merawat pesta demokrasi secara profesinal dan integritas. Dalam kehidupan bermasyarakat, demokrasi persaingan perbedaan pendapat dalam masyarakat merupakan hal yang wajar. Perbedaan memilih adalah sesuatu hal yang lumrah dalam diri individual untuk menentukan siapa saja, terpenting saling menjaga hubungan kesosialan.

Pesan dari saya terkhusus kepada pemuda (Mahasiswa) mari saling mendorong memberikan stimulus pengetahuan yang baik kepada kalangan masyarakat agar menjaga pilkada ini dengan efisien, karena pertama dan utama mahasiswa sebagai sumber solusi.

Pilkada sehat masyarakat aman. Jagan lupa tetap menjaga protokol kesehatan demi Indonesia sehat.
NKRI HARGA MATI.

Penulis            : Abdillah Aras Solissa
Mahasiswa      : IAIN Ambon

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel